Kalanya di suatu masa, satu dekade ke belakang. Dimasa sekolah.
Dua muda mudi, berjumpa tanpa henti. Tak ingin pun selalu bertemu lagi.
Bagian mana di kota, belahan mana di kelana, selalu ada dia.
Kami tak suka
Bukan karena benci atau apa. Kami bukan manusia yang cocok disanding.
Bukan juga sejoli yang cocok setimbang.
Tahu dari mana? Ya kira-kira saja.
Bukankah di masa sekolah, kawan tak berkawan kamu tahu bagaimana?
Tapi apadaya.
Siapa kami melawan roda takdir. Mau tak mau selalu kami bersama hadir.
Maka setelah lama, kami jadi bertanya-tanya.
Apa ini maksud semesta?
Dia mulai ada di pikiran dan hatiku.
Aku mungkin mengusik hati dan pikirannya.
Tahu darimana? Ya kira-kira saja.
Bukankah dari bentuk komunikasi dan gerak jasmani bisa terlihat maksud hati?
Tapi aku takut.
Aku takut pada massa yang ada disekitarnya
Kamu ingat? Aku bukan bagian kawanannya.
Dia ada di kawanan gemerlap popularitas yang diselimuti angkuh dan dusta nestapa.
Kawannya bukan musuhku, tapi kawanan itu tidak mungkin setuju bila aku dengannya.
Aku takut. Jadi aku lari.
Tapi sejauh apapun aku lari, ternyata selalu kembali lagi.
Ketika ikatanku sudah lekat nyata erat tak bisa lepas dengan yang lain.
Masih selalu semesta menarik dua muda mudi ini.
Sampai hari ini.
fs.
No comments:
Post a Comment
Thank you!